6 Rahasia yang Sering Dipendam Para Pendaki Cewek

“enak ya jadi kamu, naik gunung terus, punya banyak stok foto-foto bagus”

Mungkin, mereka yang berkomentar demikian hanya melihat postingan foto di instagram atau akun sosial media lainnya. Foto pendakian yang terlihat cantik dengan senyum manis berlatar indahnya lanskap gunung.

Sebagian besar orang mungkin hanya melihat dari sisi “enaknya naik gunung”. Padahal, ada hal-hal nggak enak yang kami alami selama pendakian. Apalagi bagi pendaki wanita, hal-hal nggak enak di bawah ini cuma kami yang bisa mengerti.

1. Susahnya menjaga diri di antara banyaknya lelaki di gunung

pendaki wanita

Foto oleh echigo

Meski sekarang sudah sangat banyak pendaki wanita, namun jumlah pendaki pria di gunung jauh lebih banyak. Bagi kami pendaki wanita, menjaga diri di antara pria-pria itu nggak mudah.

Ketika saya harus mendaki tanpa ada teman pria, saya sering berbohong dihadapan para pendaki lainnya. Bila mereka bertanya “sendirian aja mbak? atau cewek-cewek aja mbak?”, saya selalu memberikan jawaban omong kosong. Kata saya “enggak kok mas, yang lain udah jalan di depan atau enggak kok mas, kita udah janjian di pos IV”.

Saya yakin, pendaki-pendaki gunung pria Indonesia orang yang baik. Tapi, saya nggak mau ambil resiko. Lebih baik berbohong untuk mengantisipasi hal-hal yang nggak diinginkan.

Selain itu, salah satu cara menjaga diri yang terbaik adalah dengan berpakaian yang sopan. Saya memang nggak berhijab, tapi saya selalu mengenakan celana panjang. Sebaiknya, jangan mengenakan celana gemes saat mendaki, takutnya celana gemes kekinian kita mengundang mala petaka.

2. Buang air menjadi problematika utama

pendaki wanita

Foto oleh echigo

Kekhawatiran pada diri pendaki wanita bukan hanya tentang keamanannya di antara pria, tapi juga permasalahan buang air. Kalian kaum pria, mungkin nggak perlu merisaukan akan buang air dimana. Kami pendaki wanita selalu kesusahan menemukan tempat yang tepat.

Baru saja berjalan beberapa meter dan bersiap untuk buang air, tahu-tahu dari atas kelihatan segerombolan pendaki yang mau turun gunung. Harus benar-benar mencari tempat yang nggak terlihat dan aman.

Bila terpaksa, matras atau jas hujan menjadi senjata andalan. Tak lupa membawa tisu kering, tisu basah, dan air. Jujur, kami tidak bisa meninggalkan benda-benda berharga itu saat mendaki.

3. Kami nggak nyaman mendaki saat datang bulan, serius

pendaki wanita

Foto oleh echigo

Masalah buang air sudah cukup merepotkan, tambah lagi saat pendaki wanita ini sedang datang bulan. Kalau boleh jujur, saya lebih memilih nggak naik gunung saat datang bulan pada hari pertama. Sumpah, nggak nyaman banget.

Kami pendaki wanita dituntut untuk terus bergerak dan berjalan saat menstruasi. Belum lagi jika kami harus memanjat. Sungguh, kedatangan bulan saat mendaki membuat kami tidak leluasa bergerak. Kram perut saat menstruasi juga menjadi kendala. Namun, sesakit apapun itu, kami selalu bisa mengatasinya.

Hal yang paling memberatkan ketika naik gunung dalam keadaan menstruasi adalah saat kami harus sering mengganti pembalut. Lagi-lagi kami mengalami masalah dalam mencari tempat yang tenang dan sepi untuk mengganti pembalut. Bisa dibayangkan kan, saat turun gunung, tidak hanya sampah makanan yang kami bawa turun, tapi sampah pembalut.

4. Menjaga kebersihan wajah membutuhkan perjuangan, hargai!

naik gunung

Gambar oleh Echigo

Menjaga kebersihan wajah saat mendaki itu perlu. Bukan hanya ingin tampil cantik di gunung, tapi kami selalu ingin menjaga kulit kami agar tetap bersih terawat.

Ketika sudah turun gunung, kalian para pendaki pria nggak pernah bermasalah dengan kulit kusam dan gosong terbakar matahari setelah pendakian. Tapi, bagi kami, itu masalah besar. Apalagi jika harus menghadapi komentar-komentar orang seperti “kok gosong sekarang, mukanya kusam”.

Mungkin, kami terlihat tegar membalas komentar itu dengan berkata “iya dong, gosong dicium matahari Gunung Rinjani nih”. Songong dikit lah, tapi dalam hati kami berkata “sial, aduh gimana nih, kok kusem gini, harus perawatan maksimal nih”.

Setelahnya, kami berjuang mati-matian melakukan perawatan. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Perawatan wajah alami dan perawatan berbahan kimia kami lakoni.

Jadi jangan heran, jika kalian pernah menemukan kami sedang membersihkan wajah, memakai krim malam, atau sunblock di dalam tenda. Kami hanya ingin menjaga kulit kami.

5. Alotnya perdebatan meminta izin untuk mendaki

pendaki wanita

Foto oleh echigo

Menurut saya, tantangan terberat dalam mendaki gunung itu bukan terjalnya medan, tapi saat mulai minta izin. Saat itulah saya harus mengumpulkan semua mental dan mempersiapkan segala bujuk rayu kepada orang tua.

Karena tidak mudah bagi orang tua untuk merelakan anak perempuannya naik gunung. Yang mereka bayangkan, bukan pemandangan gunung yang indah dan serunya ngobrol bersama teman di tengah hutan. Dalam pemikiran mereka, naik gunung itu sangat membahayakan. Terkadang, ada juga orang tua yang berpikiran berlebihan.

Saya sering mengalami perdebatan yang alot untuk memperoleh izin mendaki. Segala macam alasan saya persiapkan untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kekhawatiran mereka. Bahkan, terkadang saya berlaku sangat manis dan menuruti semua perkataan orang tua tanpa mengeluh, tanpa membantah beberapa minggu sebelum mendaki. Tentu saja untuk melancarkan izin naik gunung. Hehehhehe.. Jangan ditiru, sebaiknya selalu menjadi anak manis yang tidak bermalas-malasan kalau diminta tolong.

6. Kegalauan saat harus memilih barang yang ingin dimasukan ke dalam tas

pendaki wanita

Foto oleh echigo

“Sepertinya enak nih bawa buku bacaan, bawa bantal juga, oiya syalnya jangan sampai ketinggalan buat foto-foto.”   Pendaki wanita itu ribet. Banyak barang yang ingin dibawa, sedangkan ransel sudah penuh. Kalau mendaki sama cowok sih enak, tinggal nitip. “Nitip bawain buku yak, keril udah penuh, nggak muat”
Pasti para cowok dengan senang hati menerimanya. Jika perlu, membawakan ransel kami sampai puncak.

Tapi bagaimana jika mendaki sendiri atau mendaki dengan anggota cewek semua? Beban ransel yang terlalu berat memang menjadi kendala kami saat mendaki.

Nggak ada yang bisa diajak share nitip barang. Mau nggak mau kami membawa semua barang sendiri.Saat seperti inilah, pendaki wanita yang terlihat mempunyai badan besar dan paling berpengalaman menjadi andalan. ***

Leave a Comment