Serunya Solo Hiking Menurut Iyos Kusuma

Banyak orang menganggap naik gunung sebagai kegiatan atau olahraga yang ekstrem karena sederet tantangan yang harus dihadapi sebelum mencapai puncak. Jika dilakukan berkelompok saja menantang, bagaimana dengan mendaki gunung seorang diri?

Wego mewawancarai Iyos Kusuma, blogger asal Bandung yang punya hobi mendaki gunung seorang diri. Meski baru 2 tahun menjalani hobi solo hiking, Iyos yang pernah berprofesi sebagai reporter televisi swasta ini menemukan banyak pengalaman menarik selama menjalani hobi tersebut.

Berawal dari solo traveling

Solo Traveling menurut Iyos Kusuma

Menjajal keberanian di Pantai Timang, Yogyakarta. Foto: Iyos Kusuma

Berawal dari perjalanan seorang diri ke Yogyakarta, Iyos akhirnya sadar bahwa ia lebih menikmati jalan-jalan sendiri daripada beramai-ramai.

“Pertama kali mencoba solo traveling itu sewaktu kuliah, jalan-jalan sendirian sebelum sidang skripsi. Tempat tujuannya, sih, standar, Jogja. Kenapa Jogja? Saya mau mengukur kemampuan saya mengatur semua persiapan liburan di kota yang ramah terhadap wisatawan,” ungkap Iyos yang dulu berkuliah di Kota Kembang, Bandung.

Waktu itu, ia memulai semua persiapan liburannya seorang diri, mulai dari mengurus tiket, penginapan, hingga mengatur jadwal, serta tujuan perjalanannya. 

Seiring berjalannya waktu, ia pun semakin menyukai kegiatan solo traveling. Selain karena lebih sepi, ia melakukannya karena merasa lebih fleksibel jika ada perubahan-perubahan mendadak.

Lebih asyik tapi lebih berisiko

Saat mendaki, Iyos tetap merasakan senangnya naik gunung meski berjalan tanpa teman.

“Asyik, sih. Prinsipnya sama. Malah sepertinya keuntungan dan konsekuensinya jadi berlipat ganda dari sekadar jalan-jalan sendirian di kota. Saya bisa ngatur mau jalan secepat atau selambat apa. Saya juga bebas mau istirahat kapan, di mana, dan berapa lama. Lalu buat yang suka suasana sepi seperti saya, solo hiking itu sangat menenangkan,” kata Iyos.

Solo Hiking menurut Iyos Kusuma

“Untuk yang suka suasana sepi, solo hiking itu sangat menenangkan,” ungkapnya. Foto: Iyos Kusuma

Karena melakukannya seorang diri, tidak jarang Iyos merasa takut. Namun, ia mengelola ketakutannya sebagai bentuk persiapan diri.

“Kadang-kadang takut juga. Walau semua hal sudah diantisipasi, rasa takut tetap ada. Tapi sisi positifnya, rasa takut ini bisa jadi bahan kita nyiapin antisipasi,” ujarnya.

Perlengkapan lebih ringan

Hal lain yang sedikit membedakan pendakian berkelompok dan seorang diri bagi Iyos adalah dari jenis barang bawaannya. Pada dasarnya, jenis barang yang dibawa untuk mendaki sama. Namun, karena tidak ada barang kelompok, bawaannya menjadi lebih ringan. Selain itu, Iyos juga menyiasati agar beban di punggungnya lebih ringan. 

Solo Traveling Menurut Iyos Kusuma

Saat melintasi sabana Bulak Peperangan, Gunung Lawu. Foto: Iyos Kusuma

“Pertama, saya lebih memilih perlengkapan yang ultralight. Jadi, beban tidak terlalu berat walau semua dibawa sendiri. Kedua, saya bener-bener tegas milih barang yang perlu dibawa. Misalnya, dari tiga tempat masak susun (nesting), saya cuma bawa salah satunya. Lalu, kalau cuma kemah satu malam, saya mengganti beras dengan oat atau pasta. Lebih ringan, lebih butuh sedikit air untuk masaknya,” papar Iyos yang kini bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta.

Perlu banyak riset

Meski sudah berkali-kali melakukan perjalanan dan mendaki gunung seorang diri, Iyos tak menampik bahwa hal yang paling ditakutinya adalah cedera fisik saat tidak ada orang lain di sekitar.

“Penyakit saya kalau naik gunung itu adalah kram di paha. Pernah sekali, kramnya kumat pas tidak ada orang lain. Mau hujan pula. Wah, kacau. Sakitnya sih tidak seberapa, tapi karena panik, jadi terasa berat banget. Akhirnya, tenangin diri, urut pakai krim panas yang sudah disiapkan, lalu jalan lagi” cerita Iyos tentang pengalamannya sewaktu mendaki Gunung Lembu.

Karena itulah, lanjutnya, ia selalu melakukan riset mendalam sebelum melakukan perjalanan. Tidak hanya untuk menentukan waktu dan tujuan, tapi juga untuk memastikan situasi jalur yang akan dilewati agar ia dapat mempersiapkan perbekalan serta latihan fisik yang diperlukan.

“Penting juga buat bener-bener ngenalin kelemahan diri sendiri,” tambahnya.

Rekomendasi tujuan solo hiking dari Iyos Kusuma

Karena Iyos pertama kali melakukan solo hiking ke Gunung Lembu, maka ia pun menyarankan gunung yang terletak di Kabupaten Purwakarta tersebut sebagai tujuan solo hiking untuk pemula.

“Karena saya pertama kali cobain solo hiking di Gunung Lembu di Purwakarta, jadi saya juga rekomendasiin ini. Bisa bawa motor atau kendaraan umum lalu lanjut ojek. Pemandangan di dekat puncak oke banget, Waduk Jatiluhur. Asyik, ‘kan? Waktu tempuh pendakian juga nggak terlalu lama. Bisa, lah, naik pagi, pulang siang atau sore. Nggak usah kemah,” ungkap Iyos.

Setelah yakin akan kemampuan dirinya untuk solo hiking, Iyos pun menjajal gunung-gunung lainnya. Meski baru melakukan pendakian sendiri ke 4 gunung, yakni Gunung Lembu, Gunung Bongkok, Gunung Ciremai, dan Gunung Lawu, ia menetapkan Gunung Lawu melalui jalur Cetho sebagai favoritnya.

Solo Hiking menurut Iyos Kusuma

Melewatkan malam di Gunung Ciremai. Foto: Iyos Kusuma

“Gunung Lawu jalur Cetho ini yang paling saya suka. Bahkan jadi salah satu gunung favorit saya selain Rinjani. Jalurnya asyik, banyak tanjakan, tapi banyak bonus juga. Di awal, kanopi hutannya lumayan padat, jadi tidak panas di perjalanan. Ada sumber air di perjalanan. Sabananya juga cakep banget, ada beberapa sabana dan masing-masing punya pemandangan yang khas,” papar Iyos tentang pendakian gunung favoritnya.

Mendaki Gunung Lawu saat Bulan Puasa

Salah satu pengalaman menarik yang juga dianggapnya gila adalah ketika Iyos melakukan pendakian solo saat bulan puasa. Bisa ditebak, tidak banyak pendaki lain yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Alhasil, ia pun harus melewatkan malam seorang diri di hutan dengan perasaan takut.

“Jadi, malem itu saya bener-bener kemah sendirian di tengah hutan. Pagi sampai sore, sih, cakep banget itu gunung. Tapi malemnya, apalagi karena sendirian, dengar suara binatang di kejauhan aja bikin parno, hahahaha,” ungkapnya sambil tertawa.

Solo hiking berikutnya?

“Selanjutnya, mungkin Merbabu, ya. Boleh nggak, sih, sendirian ke sana? Hahaha,” tutup Iyos.

Leave a Comment